Cendawan entomopatogen merupakan salah satu jenis bioinsektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman. Beberapa jenis cendawan entomopatogen yang sudah diketahui efektif mengendalikan hama penting tanaman adalah Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, Paecilomyces fumosoroseus, Aspergillus parasiticus, dan Verticillium lecanii. Namun pemanfaatan berbagai jenis cendawan tersebut sering menghadapi kendala, antara lain kurangnya pengetahuan petani tentang jenis hama serta manfaat dan upaya mempertahankan viabilitas dan keefektifan cendawan dalam pengendalian hama, termasuk cara perbanyakan, penyiapan dan aplikasinya. Pada tanaman pangan, keefektifan cendawan biasanya rendah karena tanaman pangan bersifat semusim. Upaya untuk meningkatkan keefektifan cendawan dapat dilakukan dengan: 1) melakukan identifikasi jenis hama utama yang akan dikendalikan, 2) mengaplikasikan cendawan entomopatogen pada sore hari dengan konsentrasi konidia minimal 107/ml, 3) mengulang aplikasi sebanyak tiga kali, dan 4) menambahkan bahan perekat dan bahan pembawa pada suspensi konidia sebelum diaplikasikan pada hama sasaran.

Serangga merupakan kelompok hewan yang dominan di muka bumi
dengan jumlah spesies hampir 80 persen dari jumlah total hewan di bumi.
Dari 751.000 spesies golongan serangga, sekitar 250.000 spesies terdapat
di Indonesia. Serangga di bidang pertanian banyak dikenal sebagai hama
(Kalshoven 1981). Sebagian bersifat sebagai predator, parasitoid, atau
musuh alami (Christian & Gotisberger 2000). Kebanyakan spesies
serangga bermanfaat bagi manusia. Sebanyak 1.413.000 spesies telah
berhasil diidentifikasi dan dikenal, lebih dari 7.000 spesies baru di
temukan hampir setiap tahun. Karena alasan ini membuat serangga
berhasil dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya pada habitat
yang bervariasi, kapasitas reproduksi yang tinggi, kemempuan memakan
jenis makanan yang berbeda, dan kemampuan menyelamatkan diri dari
musuhnya (Borror 1998).
Serangga memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Bila
mendengar nama serangga, maka selalu diidentikkan dengan hama di
bidang pertanian, disebabkan banyak serangga yang bersifat merugikan,
seperti walang sangit, wereng, ulat grayak, dan lainnya. Serangga dapat
merusak tanaman sebagai hama dan sumber vektor penyakit pada
manusia. Namun, tidak semua serangga bersifat sebagai hama atau vektor
penyakit. Kebanyakan serangga juga sangat diperlukan dan berguna bagi
manusia. Serangga dari kelompok lebah, belalang, jangkrik, ulat sutera,
2
kumbang, semut membantu manusia dalam proses penyerbukan tanaman
dan menghasilkan produk makanan kesehatan (Metcalfe & William
1975).
Serangga juga sangat berperan dalam menjaga daur hidup rantai dan
jaring-jaring makanan di suatu ekosistem. Sebagai contoh apabila benthos
(larva serangga yang hidup di perairan) jumlahnya sedikit, secara
langsung akan mempengaruhi kehidupan ikan dan komunitas hidup
organisme lainnya di suatu ekosistem Sungai atau Danau. Di bidang
pertanian, apabila serangga penyerbuk tidak ditemukan maka
keberhasilan proses penyerbukan akan terhambat (Nazaruddin 1993).

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.

Haiiii……